Pada Hari ini bertepatan dengan Ulang Tahun pemain Legend Milan pemakai no 10, Ruud Gullit .
Cepat, cerdas, berani bervisi, terampil, kuat, juga tak kenal lelah. Mungkin itulah beberapa kata walau tampaknya belum seluruhnya cukup untuk menggambarkan Ruud Gullit kala aktif sebagai pemain. Gullit seolah memiliki segalanya, yang kemudian dia eksploitasikan menjadi sebuah permainan yang sangat apik dan mengagumkan.
Dalam sepanjang pertandingan, Gullit akan beroperasi di mana pun juga, seolah-olah satu lapangan masih belum cukup untuk dia bermain. Pemain yang juga memiliki julukan Sang Bunga Tulip Hitam ini memang tipe penjelajah yang tak kenal lelah. Hebatnya, dia juga memiliki kemampuan menyerang yang sama hebatnya dengan kemampuan bertahan.
Karakter itu juga didukung dengan keterampilan dan sklill yang baik. Kedua kakinya seolah-olah berkerja sama dan melakukan tugasnya baiknya. Selain itu, Gullit juga kuat dalam adu udara. Bahkan dia juga memiliki sundulan yang amat keras dan terarah. Soal umpan, selain dia juga cerdik dan pintar dan dia juga memiliki tingkaat akurasi yang bisa diandalkan. Produktivitas Marco van Basten di timnas maupun di AC Milan tak lepas dari assist-assist Gullit.
Ibarat Bunga Tulip, Gullit sangat menonjol di antara hamparan tulip. Bahkan, aromanya menyebar ke mana-mana. Dia mampu menampilkan permainan yang menarik, sekaligus bisa menjadi aktor utama yang sangat menentukan.
Mengawali karier sejak masih kecil di Meerboys, Gullit memang sudah menjadi pemain yang spesial. Dia berkembang paling cepat di antara rekan-rekannya, sehingga klub Harleem berani memakainya di kompetisi senior saat umurnya baru 17 tahun. Meski masih memiliki usia yg relatif muda, dia cepat menjadi pemai yang sangat dibutuhkan. Klub-klub besar pun sudah pernah memakai jasanya. Setelah bergabung Feyenoord, lalu PSV Eindhoven, kemudian dia memecahkan rekor transfer pemain pada tahun 1987, saat dibeli AC Milan dengan nilai transfer 6,5 juta pounds.
“Gullit adalah pemain yang sangat dibutuhkan Milan. Dia adalah tipe pemain yang bisa mengubah banyak hal,” puji Presiden Milan waktu itu, Silvio Berlusconi.
Pujian yang tak terlalu berlebihan sebenarnya. Apalagi tahun itu Gullit terpilih sebagai Pemain Terbaik Eropa dan Pemain Terbaik Dunia. Dan pernyataan Berlusconi semakin terbukti setelah Gullit tampil luar biasa di Piala Eropa 1988. Bersama dengan Frank Rijkaard dan Marco van Basten, dia menjadi kunci sukses Belanda menjadi juara. Kemudian, di Milan dia memberikan banyak gelar.
Sejak itu nama Gullit berkibar di mana-mana. Hanya Maradona yang bisa mengalahkan pesonanya. Meski begitu, pesona Gullit tetap memiliki daya tarik besar. Enam klub sudah dia bela. Dan hebatnya, dia selalu meninggalkan kenangan indah buat klub yang dibelanya.
Prestasi-prestasi besar dia persembahkan. Kecuali di Harleem. Tapi, di klub profesional pertamanya itu dia tetap memberikan sumbangan besar. Setidaknya, dia mampu membuat Harleem bersaing dengan klub Belanda lainnya dan terhindar dari degradasi. Dalam 91 penampilan di klub Harleem, dia mampu mencetak 32 gol.
Puncak prestasi terbesar Gullit tentu di Milan. Dia berhasil meraih segalanya: juara Serie-A, Liga Champions, Piala Super, dan Piala Toyota. Tapi sayang, setelah semua prestasi besar itu dia mengalami cedera lutut dan itulah yang membuatnya harus disingkirkan ke Sampdoria. Meski begitu, dia masih bisa memberikan gelar Coppa Italia. Bahkan di ujung kariernya bersama Chelsea, dia masih memberikan gelar Piala FA.
SERING TERLIBAT KONFLIK
Gullit memang pemain yang sangat spesial. Meski posisinya sebagai gelandang, dia punya serangan yang sangat tajam. Sepanjang perjalanan kariernya, dia tampil di 465 pertandingan dengan torehan gol sebanyak 175. Cukup produktif untuk ukuran pemain gelandang.
Dan hebatnya, Gullit merupakan seorang tipe pemikir. Bahkan dia pernah mengusulkan agar pergantian pemain diperbanyak sampai tujuh orang. Hanya, pada 15 menit terakhir hanya boleh sekali pergantian.
Tapi sayangnya, Gullit kadang-kadang terlalu keras kepala dan memegang teguh pada pendiriannya. Dan itu yang membuatnya sering kali terlibat konflik dengan orang-orang terdekatnya. Ketika di Milan, dia pernah terlibat masalah dengan kapten Marco Baresi dan pelatih Fabio Capello. Bahkan, sejak Capello masuk, Gullit kabarnya tak pernah saling bertatap muka.
Ditambah konfliknya dengan sang kapten Baresi, posisinya di Milan menjadi makin tertekan. Banyak yang menyimpulkan bahwa kepindahan Gullit ke Sampdoria pada musim 1993-94 diperkirakan karena kopnflik itu. Padahal, Gullit waktu itu masih tampil konsisten.
Di timnas Belanda dia juga sering terlibat konflik dengan pelatih Dick Advocaat. Bahkan pada 1993 dia pernah menyatakan mundur dari timnyas, selama masih dilatih Advocaat. Setahun kemudian dia kembali membela Der Oranje, tapi kemudian meninggalkan pelatihan dengan kemarahan. Sejak itu, dia tak pernah memakai lagi seragam oranye.
Ketika Gullit pindah ke Chelsea sebagai pemain sekaligus merangkap manajer, dia juga terlibat konflik dengan manajemen. Akibat sikapnya yang keras itu, pembicaraan mengenai kontrak tidak pernah terselesaikan. Bahkan, Gullit akhirnya dipecat dengan alasan punya kehidupan pribadi yang tak bisa jadi contoh. Dia dianggap sebagai playboy. Gullit memang mengaku agak playboy, tapi dia tahu bagaimana bersikap profesional dalam sepak bola.
“Aku terlalu larut dalam egoku. Menyenangkan rasanya bisa bermain di berbagai klub dan keliling dunia. Di manapun aku bermain, aku berusaha seprofesional mungkin. Tetapi sebagai seorang bapak, jujur aku telah gagal,” ujar Gullit yang mana telah memiliki enam anak dari tiga wanita.
Bahkan kelak, ketika menjadi manajer Newcastle, dia kembali terlibat konflik dengan Alan Shearer. “Membayar mahal kepada Shearer merupakan pemborosan,” katanya. Sejak hal itu, dia dan sang idola klub Newcastle tersebut tidak pernah akur.
Terlepas dari sisi-sisi buruk itu, sebagai pemain Gullit nyaris tak pernah mempunyai cela. Seindah julukannya, "The Black Tulip" (Bunga Tulit Hitam). Dia selalu memamerkan permainan eksplosif, menguasai setiap inci lapangan, membuka peluang bagi rekan, ikut menahan gempuran lawan, dan juga produktif mencetak dalam gol. Permainan yang selalu meninggalkan gelar di setiap klub yang dibelanya.
BIODATA DAN PRESTASI RUUD GULLIT
Nama lengkap: Ruud Gullit
Julukan: The Black Tulip (Bunga Tulip Hitam)
Lahir: Amsterdam (Belanda) 1 September 1962
Posisi: Gelandang
Nomor kostum: 10 (AC Milan), 4 (Sampdoria), 4 (Chelsea)
Karier klub:
Haarlem (1979-1982), Feyenoord (1982-1985), PSV Eindhoven (1985-1987), AC Milan (1987-1993), Sampdoria (1993-1994), AC Milan (1994), Sampdoria (1994-1995), Chelsea (1995-1998)
Karier timnas: Belanda (1981-1994)
Prestasi:
Pemain Terbaik Eropa (1987), Pemain Terbaik Dunia (1987, 1989), juara Piala Eropa 1988, juara Eredivisie 1983-84 (Feyenoord), 1985-86 dan 1986-87 (PSV), juara Piala Belanda 1984 (Feyenoord), juara Serie-A 1987-88, 1991-92, 1992-93 (Milan), juara Coppa Italia 1994 (Sampdoria), juara Liga Champions 1988-89, 1989-90 (Milan), juara Piala Super Eropa 1990 (Milan), juara Piala Toyota 1990 (Milan), juara Piala FA 1997 (Chelsea)
