Sempre Milan
Tigre Rossoneri
Portal Berita Terkini AC Milan Indonesia
[ Slot AdSense : Banner Utama 728x90 ]

Kisah Pilu Di Balik Piala Spensley Milan

📅 | ✍️
[ Slot AdSense : Dalam Artikel ]

SEJARAH  SPENSLEY CUP

Penjaga  Gawang Genoa asal  Inggris, James Richardson Spensley. Ia merupakan penggagas terselenggaranya sebuah kompetisi yang kemudian dikenal sebagai  Liga Italia untuk pertama kalinya di tahun 1898. Richardson Spensley merupakan pemain  sekaligus merangkap sebagai pelatih di Genoa sejak 1896 hingga tahun 1907.

Di  tahun 1904, Spensley menyumbang sebuah piala yg dia beri nama Piala Spensley, kepada FIF (Federazione Italiana Football,  yang mana  itu adalah  cikal bakal FIGC) yang mana Spensley  mengatakan bahwa Piala  itu agar dipakai sebagai Trophy bagi klub yang menjuara Liga Italia, dan  menggantikan trophy yang  sebelum nya yg mana telah menjadi milik Genoa untuk selamanya dikarenakan Genoa telah berhasil menjuarai Liga Italia sebanyak 3 kali secara berturut-turu pada saat itu.


AC Milan menjuara Liga Italia pada tahun 1906 dan 1907, yang mana itu otomatis juga menjadi Milan menjadi pemegang Piala Spensley selama 2 tahun.

Menghadapi kompetisi di Liga Italia pada tahun 1908, FIF telah  mengambil sebuah keputusan yg paling kontroversial dan pada saat itu menjadi trending topik dalam sejarah dunia sepakbola Italia.

Pada tanggal 20 Oktober 1907, dimana telah terjadi pertemuan antara klub-klub Italia dengan FIF, pada saat itu Presiden klub Andrea Doria (Zaccaria Oberti) menyampaikan sebuah proposal yang telah di setujui oleh FIF,  yang mana isi proposal tersebut menyebutkan adanya usulan untuk diselenggarakannya 2 liga, yaitu : Campionato Italiano dan Campionato Federale.

Campionato Italiano adalah sebuah kompetisi yang hanya boleh diikuti oleh pemain-pemain berkewarganegaraan Italia saja. Sedangkan Campionato Federale adalah kebalikan dari Campionato Italiano yaitu sebuah  kompetisi yang boleh diikuti oleh para pemain asing. Klub yang menjuarai Liga Campionato Federale akan mendapat Piala Spensley, sedangkan klub  yang menjuaraa i Liga Campionato Italiano akan mndapatkan Piala Buni (Romolo Buni adalah orang yang menjadi pendiri dan Presiden klub US Milanese).


Keputusan itu otomatis   langsung mendapat protes dari semua tim-tim besar Italia, hanya  satu klub yaitu Juventus lah klub besar yg tidak ikut  memprotes keputusan dari FIF. Klub Torino dan Genoa secara langsung menyatakan untuk menolak dan tidak ikut dalam dua liga tersebut.

Mereka merasa dengan adanya pembatasan pemain dalam Liga Campionato Italiano tidak akan "mencukupi" untuk bisa disebut sebagai sebuah liga. Sedangkan di Liga Campionato Federale pemain asing yang diperbolehkan  tampil pun d batasi, yaitu hanya yg sudah memiliki tempat tinggal tetap di Italia.

Meskipun ikut memprotes keputusan FIF, namum Milan tetap mengikuti kedua Liga tersebut.Klub Milanese tidak bisa mengikuti Kompetisi Campionato Federale dikarenakan stadion mereka belum siap untuk digunakan dan baru siap digunakan pada bulan maret (bertepatan dengan dimulainya kompetisi Campionato Italiano), sedangkan kompetisi Campionato Federale ini berakhir pada bulan Februari.

Sehingga hanya ada 3 klub yang terdaftar untuk mengikuti kompetisi Campionato Federale tersebut, yaitu : Milan, Juventus dan Andrea Doria. Ketiga klub tersebut dijadwalkan akan bertanding dalam format Grup, dan akan  bermain  sebanyak 4 kali yang mana masing-masing  lawan akan dihadapi sebanyak 2 kali. Namun pihak Milan meminta kepada FIF agar tidak menggunakan Piala Spensley dalam kompetisi ini (Campionato Federale) dikarenakan kualitas kompetisi Campioanto Federale masih dibawah  dan sangat jauh kualitas dan maknanya dibandingkan dengan Liga Italia yang sesungguhnya. Akan tetapi pihak FIF tidak menggubris masukan itu dan FIF tetap dengan keputusan sebelumnya. Dengan keangkuhan  FIF  pada saat itu, maka pada tanggal 1 Januari 1908 (4 hari sebelum digulirnya  kompetisi Campionato Federale)  pihak  Milan menyatakan mundur dari 2 Kompetisi Liga tersebut.

Dengan mundurnya Milan maka hanya tersisa 2 klub yang saja, yaitu Juventus dan Andrea Doria dan oleh karena itu hanya akan ada 2 pertandingan saja (home away). Pertandingan pertama dimenangkan  oleh Juventus dengan skor 3-0, dan pada pertemuan kedua Andrea Doria menang 1-0. Dengan hasil 2 pertandingan tersebut maka Juventus dinyatakan sebagai Juara.

Sedangkan dalam kompetisi Cammpionato Italiano hanya ada 4 klub yang menjadi peserta kompetisi, yaitu : Pro Vercelli, Juventus, Andrea Doria, dan US Milanese. Klub Juventus langsung tersungkur menghadapai  klub Pro Vercelli dalam babak penyisihan. Sedangkan  US Milanese dan Andrea Doria langsung mendapatkan tiket masuk otomatis karena Klub Torino dan Genoa yang mana seharusnya menjadi lawan mereka tidak ikut dalam kompetisi. Dan seandainya Milan tidak mengundurkan diri maka juga akan mendapat tiket masuk otomatis dikarenan Milan menjadi juara bertahan di Prima Categoria.

3 Klub saling berhadapan dalam sistem kompetisi penuh yang mana semua klub harus bertemu sebanyak 2 kali untuk mencari pemuncak klasemen dan yang menjadi juara dalam kompetisi tersebut. Dan pada akhirnya Klub Pro Vercelli lah yang berhasil menjadi juara.


Pihak FIF hanya mengakui gelar  juara kompetisi Campionato Italiano saja  yang dipegang oleh Pro Vercelli sebagai Scudetto Liga Italia. Sedangan gelar juara dari kompetisi Campionato Federale yang dijuarai oleh Juventus tidak diakui atau tidak dianggap sah/resmi oleh pihak FIF dikarenakan kompetisi tersebut  hanya diikuti oleh 2 klub saja.


Terkait mengenai hal  mengapa Milan menolak menyerahkan Piala Spensley untuk kompetisi Campionato Federale, Piala Spendley adalah piala yang  diberikan kepada klub peraih scudetto dan pada saat itu Milan  menjadi pemegang piala Spensley dikarenakan berhasil menjadi juara bertahan Liga Italia dan Juventus bukan lah peraih scudetto tahun itu. Sedangkan pada saat itu, kompetisi Campionato Italiano, yg memperebutkan scudetto, belum berlangsung (dan baru dimulai seminggu setelah kompetisi Campionato Federale selesai).

Telah terjadi perselisihan sengit yang berkepanjangan antara Milan dan FIF pada saat itu. 
Hingga akhirnya tanggal 8 November 1908, FIF memutuskan bahwa Piala Spensley menjadi milik Milan secara permanen. Dan klub Pro Vercelli ditetapkan sebagai peraih scudetto yang sah, dan tetap mendapatkan Piala Romolo Buni. Sedangkan untuk kompetisi Campionato Federale pihak FIF membuat sebuah piala yang kemudian diberi nama Piala Zaccaria Oberti, yang mana sesuai dengan nama orang penggagas dari kedua kompetisi tersebut.


Tapi Milan kemudian mengembalikan Piala Spensley tersebut kepada pemiliknya, James  
 tsb kepada pemiliknya, James Richardson Spensley. Dan Piala itu sekarang disimpan di museum sejarah Genoa.

 Tapi uniknya, pada musim berikutnya (tahun 1909), justru juara Campionato Federale (yaitu Pro Vercelli) yg gelar scudetto nya d akui secara sah sebagai gelar juara Liga Italia. Sedangkan Juventus yg menjuarai Campionato Italiano, tidak diakui gelar juaranya, dikarenakan kualitas liga yang sangat rendah (akibat tidak boleh adanya pemain asing).

Semua klub-klub yang memboikot sebelumnya pada akhirnya ikut ambil bagiuan dalam kompetisi Campionato Federale pada tahun 1909, tapi tidak ikut dalam kompetisi Campionato Italiano. Format dua liga ini hanya berlangsung selama 2 tahun (1908 dan 1909). Usai Liga Italia 1909, FIF telah berganti nama menjadi FIGC, melalui sebuah pertemuan di kota Milan.


Dalam kompetisi  Liga Italia pada tahun 1910, 2 kompetisi liga tersebut akhirnya dijadikan satu liga, tapi masih belum menggunakan sistem degradasi, dikarenakan kompetisi tersebut hanya diikuti oleh 9 klub  saja. Keputusan pengunduran diri Milan dari dua liga tersebut (4 hari sebelum Campionato Federale berlangsung), ternyata tidak disukai oleh beberapa orang di dalam Milan sendiri.

Ketika Herbert Kilpin dan pendiri Milan lainnya sedang "berperang" dgn FIF, rupanya Giorgio Muggiani (Sekjen Milan) dan 43 org pengurus dan pemain Milan lainnya (termasuk Alfred Bosshard, duet Kilpin di lini pertahanan) sudah merencanakan untuk membentuk sebuah klub baru.

Sekitar dua minggu setelah selesai nya Campionato Federale atau seminggu setelah Campionato Italiano dimulai, tepatnya tanggal 9 Maret 1908, mereka men-deklarasikan pembentukan sebuah klub baru.



Efek Milan  menolak mengikuti Kompetisi Campionato Italiano dan Federale.


Keputusan FIF (Federasi Sepakbola Italia, sebelum berganti nama menjadi FIGC) untuk melangsungkan dua liga secara paralel di musim 1907-1908, menimbulkan efek yang sangat signifikan, dan nyaris membuat Milan berada pada titik nadir yang nyaris mengarah ke hal yang fatal.

Penggunaan Piala Spensley di kompetisi Campionato Federale, menimbulkan protes keras dari kubu Milan, sehingga akhirnya menolak untuk ikut dalam dua liga tersebut di musim 1907-1908 tersebut. Ternyata, keputusan Milan tersebut tidak sejalan dengan keinginan beberapa pengurus dan pemain Milan sendiri.

Sekjen Milan, Giorgio Muggiani, diam-diam  menggalang dukungan dari dalam tubuh Milan sendiri, dan merencanakan untuk mendirikan sebuah klub baru.

Sekitar seminggu setelah Campionato Federale berakhir, di mana kubu Milan melalui Kilpin dan beberapa "founding fathers" sedang terlibat "perang" dengan FIF mengenai Piala Spensley tersebut, tapi ada kenyataan pahit dimana ke-44 orang tengah membelot dan berkhianat  kepada Milan dan tengah mendirikan sebuah klub baru pada tanggal 9 Maret 1908.

Perpecahan di kubu Milan ini sangat membuat Kiplin kecewa berat, sedih dan terpukul sekali. Karena beberapa pembelot itu merupakan sahabat beliau sendiri, sesama pengurus maupun pemain Milan.

Sebulan kemudian setelah perpecahan di tubuh Milan, Kilpin memutuskan pensiun. Bahkan bukan hanya pensiun sebagai pemain, Kilpin juga keluar dari manajemen Milan dan kemudian hidup menyendiri, karena rasa kekecewaan yang sangat mendalam.

Dengan pensiunnya Kilpin membuat Milan seakan seperti kehilangan simbolnya, dan kemudian berada dalam situasi carut-marut dan kacau balau. Tidak sampai di situ.

Pada tanggal 21 Januari 1909, Alfred Edwards (Presiden Milan) juga mengundurkan diri karena merasa gagal memimpin Milan dan tidak sanggup lagi mengelola Milan yang sedang dalam masa-masa kritis tersebut, dan ia pun lalu kembali ke kota Portsmouth di Inggris.


Dengan kehilangan 2 pemimpin tersebut, manajemen Milan harus segera mengambil keputusan penting dan tidak boleh  salah sama sekali. Dan kemudian Gianinno Camperio, salah seorang pendiri Milan, menjadi caretaker Presiden Milan sambil menunggu hasil diskusi seluruh pengurus manajemen Milan. Dan 8 hari setelah itu, tepatnya tanggal 29 Januari 1909, terpilihlah Piero Pirelli sebagai Presiden Milan selanjutnya.


Terpilihnya Piero Pirelli juga merupakan sebuah "perjudian". Walaupun berlatar belakang seorang pengusaha (ayahnya adalah pendiri perusahaan Pirelli yang kita kenal sekarang), namun Piero masih berusia 28 tahun saat itu. Namun para pengurus beralasan bahwa Piero Pirelli adalah seorang yang sangat mencintai Milan. Dan ia sudah menjadi pengurus Milan sejak pertama kali terbentuk.

Meskipun bukan sebagai deklarator Milan, namun Piero Pirelli sudah ikut dalam pertemuan-pertemuan untuk membahas pembentukan Milan. Sehari setelah Milan dideklarasikan, Piero Pirelli menjadi Anggota Eksekutif di jajaran kepengurusan Milan dan menjabat sebagai Penasehat, dan ikut menyusun struktur manajemen dan konsep klub.
Itulah sebabnya, ia dianggap juga sebagai salah seorang pendiri Milan.

Kecintaan terhadap Milan, latar belakang sebagai seorang pengusaha, serta tentu saja kekuatan finansial yang ia miliki sebagai calon pewaris perusahaan Pirelli, dianggap sebagai komposisi yang tepat untuk menjadi Presiden Milan.

Dan semua itu terbukti benar.

Setelah menjadi Presiden Milan, ia segera mengkonsolidasi seluruh elemen-elemen Milan, merangkul kembali dan menyatukan anggota-anggota Milan yang tadinya sudah mulai tak tentu arah. Pirelli menjadi presiden Milan selama 20 tahun.

Pirelli adalah seorang perwira kavaleri pada Perang Dunia I.

Milan bukan milik Pirelli, sebab ia menjadi Presiden klub atas dasar karena dipilih, bukan karena ia membeli Milan. Namun, ia mengelola Milan layaknya sebagai milik sendiri. Begitu banyak uang pribadinya yang ia habiskan demi kepentingan Milan. Dan puncaknya adalah ketika ia membangun San Siro dari uang pribadinya, dan lalu menghadiahkan nya kepada Milan.



Dan  di akhir cerita .

Jadi, keputusan kontroversial FIF di tahun 1907-1908, memberikan dampak dan efek positif dan negatif sekaligus bagi Milan.

Terjadinya perpecahan di tubuh Milan, dan mengakibatkan kekecewaan besar bagi Kilpin, yang juga  menjadi akar dari penyebab meninggalnya Kilpin.

Namun di sisi lain, "badai" yang menerpa Milan tersebut, memunculkan Pirelli sebagai 
Presiden Milan, selama 20 tahun.  Dan berhasil membuat Milan bangkit lagi.





[ Slot AdSense : Bawah Artikel ]